This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 16 November 2013

Asesmen Anak Tunarungu

Pendidikan bagi anak tunarungu merupakan proses yang kompleks. Penempatan yang tepat, cara belajar terbaik bagi masing-masing anak (auditori, visual, atau manual), kurikulum, amplifikasi, dan keputusan tentang transisi dari satu lembaga layanan ke lembaga layanan lainnya yang diambil oleh keluarga, sekolah, dan individu, bergantung pada informasi yang reliabel. Informasi semacam ini hanya dapat diperoleh dari hasil asesmen yang baik, yang memperhatikan kekuatan dan kebutuhan anak dalam bidang komunikasi, akademik, intelektual, medis, dan karakteristik audiologis anak, yang harus diterjemahkan oleh orang tua dan guru menjadi tujuan pembelajarannya. Bila perencanaan program pendidikan anak sehari-hari sudah didasarkan atas informasi hasil asesmen tersebut, maka asesmen itu sudah mencapai tujuan utamanya.

Intervensi Dini Bagi Anak Tunarungu


Anak-anak berkebutuhan khusus, seperti anak tunarungu, bisa berkembang menjadi manusia dewasa yang mandiri dan berguna bagi masyarakat jika diberikan program intervensi dini kepada mereka. Walaupun mereka tunarungu, potensi kecerdasan lain dari mereka bisa dikembangkan. Untuk itu, sangat diperlukan guru-guru yang berkualitas, yang bersertifikasi.
Intervensi dini merupakan suatu kegiatan edukatif dengan memberikan pengaruh dan layanan – layanan khusus (melibatkan semua pihak) pada anak yang mengalami masalah, sesuai kebutuhan anak.

Jumat, 08 November 2013

Metode Pengajaran Bahasa Bagi Anak Tunarungu


Bahasa merupakan sarana komunikasi yang penting untuk setiap orang termasuk seorang tunarungu. Mereka membutuhkan pembelajaran bahasa agar dapat berkomunikasi dengan orang lain. Ada tiga metode utama individu tunarungu belajar bahasa, yaitu dengan membaca ujaran melalui pendengaran dan dengan komunikasi manual atau dengan kombinasi ketiga cara tersebut.
1.      Belajar Bahasa Melalui Membaca (Speechreading)
Membaca ujaran melalui gerakan bibir tidak semudah yang dibayangkan, semua itu juga membutuhkan keahlian dan pemahaman mendalam agar dapat mengerti maksud namun bagi seorang tunarungu yang belum pernah mendengar tentunya hal tersebut terasa sulit. Menurut Berger (1972), orang dapat memahami pembicaraan orang lain dengan “membaca” ujarannya melalui gerakan bibirnya, akan tetapi hanya sekitar 50% bunyi ujaran yang dapat terlihat pada bibir.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Hambatan Emosi dan Sosial Anak Tunarungu

Keterbatasan dalam berkomunikasi sering menimbulkan kesulitan sosial dan perilaku. Meadow (1987) yang dikutip Hallahan & Kauffman, (1991:71) menyatakan bahwa: inventarisasi kepribadian dengan konsisten menunjukkan bahwa anak-anak tunarungu mempunyai lebih banyak masalah penyesuaian daripada anak-anak normal.
Jika anak-anak tunarungu yang tanpa masalah-masalah nyata atau serius diteliti, mereka menunjukkan kekhasan akan kekakuan, egosentrik, tanpa control dalam diri, impulsive dan keras kepala.
Fungsi emosi diartikan sebagai persepsi seseorang tentang dirinya, dan fungsi sosial adalah sebagai persepsi tentang hubungan dirinya dengan orang lain dalam situasi sosial (Boothroyd, 1982). Selanjutnya dikatakan bahwa pendengaran memegang peran yang signifikan dalam perkembangan awal emosisosial namun bukan esensial. Sedangkan pada tahap perkembangan yang lebih lanjut
bahasalah yang memegang peran berarti dan esensial.
Berdasarkan pengalaman ternyata bahwa keluarga yang mempunyai anak tunarungu mengalami banyak kesukaran untuk melibatkan anak dalam keadaan dan kejadian sehari-hari agar mereka mengetahui tentang apa yang terjadi di lingkungannya. Sering terjadi bahwa karena kemiskinannya
dalam bidang komunikasi, maka anak tunarungu kurang dapat memaknai situasi dan kondisi lingkungan di luar dirinya secara utuh dan total yang akan dapat memperkaya khasanah pengalaman lahiriah dan batiniahnya. Dengan kata lain keadaan ini tentu mengakibatkan suatu kekurangan dalam keseluruhan pengalaman anak yang pada hakikatnya merupakan dasar dari perkembangan perasaan, sikap sosial dan kepribadian. Jadi dapat diasumsikan bahwa ketulian mengubah pengalaman seseorang dan menyebabkan suatu keterasingan, suatu distansi dan kontak yang berkurang dengan
keadaan sekelilingnya sehari-hari.
Beberapa sifat dan ciri sebagai konsekuensi dan dampak terhambatnya perkembangan emosi dan sosial anak tunarungu menurut Van Uden (1971) dan Meadow (1976, 1980) adalah:
 Sifat egosentris yang lebih besar daripada anak mendengar. Karena dunia penghayatan mereka lebih sempit, maka anak tuli akan lebih terarah kepada diri sendiri, sehingga mereka sukar menempatkan diri pada cara berpikir dan perasaan orang lain, dan kurang menyadari/peduli efek perilakunya terhadap orang lain. Dalam tindakannya dikuasai perasaan dan pikirannya secara berlebihan, sukar menyesuaikan diri. Bahasa merupakan suatu faktor yang penting dalam perkembangan kontak dan interaksi sosial. Bahasa merupakan alat utama untuk mengkristalisasikan dan menstruktur pengalaman. Jadi kemampuan bahasa yang terbatas akan membatasi pula kemampuan untuk mengintegrasikan pengalaman dan akan memperkuat sifat egosentris ini.
Memiliki sifat impulsive, yaitu tindakannya tidak didasarkan pada perencanaan yang jelas dan matang, serta tanpa mengantisipasi akibat yang mungkin ditimbulkan oleh perbuatannya. Apa yang mereka inginkan biasanya perlu segera dipenuhi. Adalah sukar bagi mereka untuk merencanakan atau menunda suatu pemuasan kebutuhan dalam jangka panjang. Dalam membuat rencana jangka panjang diperlukan kemampuan untuk memikirkan atau membayangkan berbagai kemungkinan di masa datang berdasarkan masa kini. Justru dalam hal inilah mereka kekurangan karena kurang mempunyai konsep tentang relasi/hubungan.
Sifat kaku, menunjuk pada sikap kaku atau kurang luwes dalam memandang dunia dan tugas-tugas. Hal ini disebabkan oleh sempitnya bidang penghayatan dan berpikir sebagai akibat ketulian dan kemiskinan bahasa. Pikiran dan perasaan mereka terbatas pada hal-hal konkret saja. Menurut Meadow (1980) hal ini dapat menyebabkan suatu ketidakmampuan untuk mengubah suatu tuntutan sesuai perubahan situasi atau kejadian. Erat kaitannya dengan sifat ini adalah kesulitan dalam mendapatkan pengertian tentang hubungan sebab akibat baik dalam lingkungan fisik maupun social dan kesulitan dalam memahami alasan atau sebab dari suatu kejadian.
Sifat lekas marah atau tersinggung, karena kemiskinan bahasanya, anak tunarungu tidak dapat menjelaskan atau mengekspresikan keinginanya dengan baik dan sebaliknya kurang dapat memahami apa yang dikatakan orang lain. Keadaan ini dapat menyebabkan kekecewaan, ketegangan, dan frustrasi yang diekspresikan secara aktif dan agresif tetapi kadang dapat diungkapkan dengan sikap malu-malu, ragu-ragu dan menarik diri. Kedua sikap yang berlawanan ini banyak bergantung dari reaksi orangtua/pendidik terhadap kemampuan anak sehingga terbentuknya konsep diri yang negatif pada anak, pada akhirnya dapat menghambat proses kegiatan belajar di kelas. Meadow (1980) menjelaskan bahwa pembentukan konsep diri terjadi sejalan dengan perkembangan social seorang anak. Berdasarkan reaksi atau sikap orang lain dalam lingkungannya terhadap diri dan tindakannya akan terbentuk pandangan terhadap diri sendiri.

PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK TUNARUNGU

Pada umumnya inteligensi anak tunarungu secara potensial sama dengan anak normal, tetapi secara fungsional perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemampuan berbahasanya, keterbatasan informasi dan kiranya daya abstraksi anak. Akibat ketunarunguannya menghambat proses pencapaian pengetahuan yang lebih luas. Dengan demikian perkembangan inteligensi secara fungsional terhambat.
Perkembangan kognitif anak tunarungu sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa, sehingga hambatan bahasa pada anak tunarungu menghambat perkembangan inteligensinya.
Kerendahan tingkat inteligensi anak tunarungu bukan berasal dari hambatan intelektualnya yang rendah, tetapi umumnya disebabkan inteligensinya tidak mendapat kesempatan untuk berkembang. Pemberian bimbingan yang teratur terutama dalam kecakapan berbahasa akan dapat membantu perkembangan inteligensi anak tunarungu. Tidak semua aspek inteligensi anak tunarungu terhambat, aspek inteligensi yang terhambat perkembaangannya adalah yang bersifat verbal, misalnya merumuskan pengertian menghubungkan, menarik kesimpulan dan meramalkan kejadian.
Aspek inteligensi yang bersumber dari penglihatan dan yang berupa motorik tidak banyak  mengalami hambatan, tetapi justru berkembang lebih cepat.
cruickshank yang dikutip oleh Yuke R. Siregar (1986:6) mengemukakan bahwa:
Anak-anak tunarungu sering memperlihatkan keterbatasannya dalam belajar dan kadang tampak terbelakang. Keadaan ini tidak hanya disebabkan oleh derjat gangguan pendengaran yang dialami anak, tetapi juga tergantung pada potensi kecerdasan yang dimiliki, rangsangan mental, serta dorongan dari lingkungan luar yang memberikan kesempatan begi anak untuk mengembangkan kecerdasan itu.
Bayak pendapat yang mengemukakan tentang kemampuan intelektual anak tunarungu. Pendapat-pendapat ini ada yang saling bertentangan. Ada beberapa ahli ilmu jiwa menyatakan bahwa kemampuan kognitif sangat erat hubungannya dengan bahasa.
Sebaliknya ada pula yang berpendapat bahwa anak tunarungu tidak harus lebih rendah taraf inteligensinya dari anak normal.
Fruth, yang dikutip oleh Sri Mardiani (1987:32) mengemukakan bahwa:
Anak tunarungu menunjukan kelemahan dalam memahami konsep berlawanan, dan konsep berlawanan itu sangat tergantung dari pengalaman bahasa, misalnya panas-dingin.

PENGARUH PENDENGARAN PADA PERKEMBANGAN BICARA DAN BAHASA

Perkembangan bahasa dan bicara berkaitan erat dengan ketajaman pendengaran. Akibat terbatasnya ketajaman pendengaran anak tunarungu tidak mampu mendengar dengan baik. Dengan demikian pada anak tunarungu tidak terjadi proses peniruan suara setelah masa meraban, proses peniruannya hanya terbatas pada peniruan visual. Selanjutnya dalam perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu memerlukan pembinaan secara khusus dan intensif sesuai dengan kemampuan dan taraf ketunarunguannya.
Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipergunakan manusia dalam mengadakan hubungan dengan sesamanya. Hal ini berarti bila sekelompok manusia memiliki bahasa yang sama, maka mereka akan saling bertukar pikiran mengenai segala sesuatu yang dialami secara konkrit maupun yang abstrak. Tanpa mengenai bahasa yang digunakan suatu masyarakat, kita sukar mengambil bagian dalam kehidupan sosial mereka, sebab hal tersebut dilakukan dengan media bahasa. Dengan demikian bila kita suatu kemampuan berbahasa berarti kita memiliki media untuk komunikasi.
Bila seorang anak memiliki kemampuan berbahasa, mereka akan memiliki sarana untuk mengembangkan segi sosial, emosional, maupun inteleknya. Mereka akan memiliki kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya terhadap sesama, dapat memperoleh pengatahuan dan salling bertukar pikiran.
Perkembangan kemampuan bahasa anak tunarungu terutama yang tergolong tuli tentu tidak mungkin sampai pada penguasaan bahasa melalui pendengarannya, melainkan harus melalui penglihatannya dan memanfaatkan sisa pendengarannya. Oleh karena itu komunikasi bagi anak tunarungu mempergunakan segala aspek yang ada pada anak tunarungu tersebut.
Adapun berbagai media komunikasi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
  1. Bagi anak tunarungu yang mampu bicara tetap menggunakan bicara sebagai media dan membaca ujaran sebagai sarana penerimaan dari pihak anak tunarungu.
  2. Menggunakan media tulisan dan membaca sebagai sarana penerimaannya.
  3. Menggunakan isyarat sebagai media.

Rabu, 23 Oktober 2013

Faktor Penyebab Ketunarunguan


Pada saat sebelum dilahirkan (prenatal)
  • Salah satu atau kedua orangtua anak menderita tunarungu, atau mempunyai gen sel pembawa sifat abnormal misalnya : dominat genes, recesive gen dan lain-lain.
  • Karena penyakit : sewaktu ibu mengandung terserang suatu penyakit, terutama penyakit-penyakit yang diderita pada suatu kehamilan trisemester pertama yaitu pada saat pembentukan ruang telinga. Penyakit itu ialah rubella, morbili dan lain-lain.
  • Karena keracunan obat-obat: Pada suatu kehamilan, ibu meminum obat-obatan terlalu banyak atau ibu seorang pecandu alkohol, atau ibu tidak menghendaki kehadiran anaknya, ia meminum obat penggugur kandungan akan dapat menyebabkan ketunarunguan pada anak yang dilahirkan.
Pada saat kelahiran (natal)


  • Sewaktu melahirkan, ibu mengalami kesulitan, sehingga persalinan dibantu dengan penyedotan (tang)
  • Prematuritas, yakni bayi yang lahir sebelum waktunya.


Pada saat setelah kelahiran (post natal)

  • Ketulian terjadi karena infeksi, misalnya infeksi pada otak (meningitis) atau infeksi umum seperti difteri, morbili dan lain-lain.
  • Pemakaian obat-obatan ototoksi pada anak-anak.
  • Karena kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan alat pendengaran bagian dalam misalnya jatuh.

Pengertian dan Klasifikasi TUNARUNGU


  • PENGERTIAN
Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera pendengarannya. Para ahli banyak mengemukakan bataasan pengertian anak tunarungu yang semua itu pada dasarnya sama.
Andreas Dwidjosumarto (1990:1) mengemukakan bahwa : seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori, yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (hard of hearing). Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan, tapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).
Selain itu menurut Mufti Salim (1984:8) menyimpulkan bahwa : anak tunarungu ialah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya. Ia memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus untuk mencapai kehidupan batin yang layak.
Berdasarkan batasan-batasan diatas, dapat disimpulkan bahwa tunarungu adalah mereka yang kehilangan pendengaran, baik sebagian (hard of hearing) maupun sseluruhnya (deaf) yang menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional didalam kehidupan sehari-hari

  • KLASIFIKASI
Tunarungu secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tuli (deaf) dan susah mendengar (hard of hearing). Sedangkan berdasarkan tingkat kehilangan ketajaman pendengaran yang diukur dengan satuan desibell (dB) dapat dikelompokkan menjadi :
  1. Sangat ringan (light)                 25dB-40dB
  2. Ringan (mild)                           41dB-55dB
  3. Sedang (moderate)                  56dB-70dB
  4. Berat (severe)                          71dB-90dB
  5. Sangat berat (profound)           91dB-lebih