Sabtu, 16 November 2013

Asesmen Anak Tunarungu

Pendidikan bagi anak tunarungu merupakan proses yang kompleks. Penempatan yang tepat, cara belajar terbaik bagi masing-masing anak (auditori, visual, atau manual), kurikulum, amplifikasi, dan keputusan tentang transisi dari satu lembaga layanan ke lembaga layanan lainnya yang diambil oleh keluarga, sekolah, dan individu, bergantung pada informasi yang reliabel. Informasi semacam ini hanya dapat diperoleh dari hasil asesmen yang baik, yang memperhatikan kekuatan dan kebutuhan anak dalam bidang komunikasi, akademik, intelektual, medis, dan karakteristik audiologis anak, yang harus diterjemahkan oleh orang tua dan guru menjadi tujuan pembelajarannya. Bila perencanaan program pendidikan anak sehari-hari sudah didasarkan atas informasi hasil asesmen tersebut, maka asesmen itu sudah mencapai tujuan utamanya.

Seorang diagnostisi akan dapat melaksanakan asesmen yang valid dan memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan evaluasi bila dia memiliki pengalaman yang memadai dengan populasi tunarungu ini.
Asesmen itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari pelaksanaan tes baku dalam setting klinis hingga observasi kelas. Populasi anak tunarungu itu sangat beraneka ragam. Perbedaannya itu terletak pada lingkungan rumahnya, penyebab dan tingkat ketunarunguannya, sejarah perkembangan bahasanya, dan adanya faktor-faktor penyerta yang mempersulit keadaan (misalnya retardasi mental, keterbatasan motorik atau visual, kesulitan belajar). Karena keanekaragaman tersebut, seorang diagnostisi cenderung ttidak akan memperoleh pengalaman yang sama dalam asesmen terhadap individu yang berbeda. Hasil berbagai jenis asesmen harus dikaji bersama-sama. Memahami hasil tes akademik tergantung pada pemahaman tentang hasil asesmen komunikasi dan intelektual. Perilaku dapat dievaluasi secara memadai hanya jika psikolog mengetahui bahasa anak dan keterbatasan akademiknya di tingkat kelasnya saat ini. Hasil terpadu dari berbagai asesmen ini diperlukan untuk menentukan keputusan-keputusan yang penting menyangkut diri anak.
Keuntungan Asesmen
Pengalaman menunjukkan bahwa tanpa asesmen, ada siswa tunarungu yang mencapai usia sekolah menengah tanpa memiliki keterampilan membaca, mengembangkan perilaku yang bermasalah akibat frustrasi yang berkepanjangan yang disebabkan oleh penempatan yang tidak tepat, atau kurang memperoleh perlakuan yang sesuai dengan potensinya. Asesmen yang tepat dapat menghindari masalah-masalah tersebut dengan:

1) Memvalidasi atau mempertanyakan keprihatinan orang tua dan guru tentang tingkat kinerja atau kemajuan anak.
2) Menunjukkan bidang-bidang kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada diri anak untuk pengajaran remedial atau observasi lebih lanjut.
3) Mengidentifikasi dan membantu mengatasi konflik antara orang tua dan profesional dengan menyarankan cara pemecahan yang didasarkan pada kepentingan anak.
4) Memberikan informasi yang dapat langsung dipergunakan dalam program pendidikan individualisasi bagi anak yang bersangkutan



Referensi
Eccarius, Malinda (1997). Educating Children Who Are Deaf or Hard of Hearing: Assessment. ERIC EC Digest #E550. The ERIC Clearinghouse on Disabilities and Gifted Education (ERIC EC): The Council for Exceptional Children

0 komentar:

Posting Komentar