Bahasa
merupakan sarana komunikasi yang penting untuk setiap orang termasuk seorang
tunarungu. Mereka membutuhkan pembelajaran bahasa agar dapat berkomunikasi
dengan orang lain. Ada tiga metode utama individu tunarungu belajar bahasa,
yaitu dengan membaca ujaran melalui pendengaran dan dengan komunikasi manual
atau dengan kombinasi ketiga cara tersebut.
1. Belajar Bahasa Melalui Membaca (Speechreading)
Membaca
ujaran melalui gerakan bibir tidak semudah yang dibayangkan, semua itu juga
membutuhkan keahlian dan pemahaman mendalam agar dapat mengerti maksud namun
bagi seorang tunarungu yang belum pernah mendengar tentunya hal tersebut terasa
sulit. Menurut Berger (1972), orang dapat memahami pembicaraan orang lain
dengan “membaca” ujarannya melalui gerakan bibirnya, akan tetapi hanya sekitar
50% bunyi ujaran yang dapat terlihat pada bibir.
Ashman
& Elkins (1994) menambahkan bahwa diantara 50% lainnya, sebagian dibuat
dibelakang bibir yang tertutup/jauh dibagian belakang mulut sehingga tidak
kelihatan atau ada juga bunyi ujaran yang pada bibir tampak sama sehingga pembicara
bibir tidak dapat memastikan bunyi apa yang dilihatnya. Hal ini sangat
menyulitkan bagi mereka yang ketunarunguannya terjadi pada masa prabahasa.
Seseorang dapat menjadi pembaca ujaran yang baik bila ditopang oleh pengetahuan
yang baik tentang struktur bahasa sehingga dapat membuat dugaan yang tepat
mengenai bunyi yang “tersembunyi” itu. Jadi orang tunarungu yang bahasanya
normal biasanya merupakan pembaca ujaran yang lebih baik daripada tunarungu
parbahasa, dan bahkan terdapat bukti bahwa orang non tunarungu tanpa latihan
membaca bibir lebih baik daripada orang tunarungu yang terpaksa harus
bergantung pada cara ini.
Kelemahan
sistem ini dapat diatasi bila digabung dengan sistem cued speech (isyarat ujaran). Cued
Speech adalah isyarat gerakan tangan untuk melengkapi isyarat ujaran.
Tujuan dari pengmbangan isyarat ini adalah untuk meningkatkan perkembangan
bahasa anak tunarungu dan memberi mereka fondasi untuk keterampilan membaca dan
menulis, dengan membaca dan menulis yang baik dan benar.
2. Belajar Bahasa Melalui Pendengaran
Belajar
melalui pendengaran berarti memberikan alat bantu dengar bagi seorang tunarungu.
Menurut Ashman & Elkins (1994), alat bantu dengar yang telah terbukti
efektif bagi jenis ketunarunguan sensorineural dengan tingkat yang berat sekali
adalah cochlea implant. Cochlea
implant adalah prostesis alat pendengaran yang terdiri dari dua komponen yaitu
komponen eksternal (mikropon dan speech processor) yang dipakai oleh pengguna
dan komponen internal ( rangkaian elektroda yang melalui pembedahan dimasukan
kedalam cochlea di telinga dalam. Komponen eksternal dan internal digabungkan secara
elektrik. Prostesis cochlear implant dirancang untuk menciptakan rangsangan
pendengaran dengan langsung memberi stimulasi elektrik pada syaraf pendengaran
(Laughton, 1997).
Akan
tetapi, meskipun dalam lingkungan auditer terbaik, jumlah bunyi ujaran yang
dapat dikenali secara cukup baik oleh orang dengan klasifikasi ketunarunguan
berat untuk memungkinkannya memperoleh gambaran yang lengkap tentang struktur
sintaksis dan fonologi bahasa itu
terbatas. Tetapi ini tidak berarti bahwa penyandang ketunarunguan yang berat
sekali tidak dapat memperoleh manfaat dari bunyi yang diamplifikasi dengan alat
bantu dengar. Yang menjadi masalah besar dalam hal ini adalah bahwa individu
tunarungu jarang dapat mendengarkan bunyi ujaran dalam kondisi optimal.
Faktor-faktor tersebut mengakibatkan individu tunarungu tidak dapat memperoleh
manfaat yang maksimal dari alat bantu dengar yang digunakannya. Disamping itu,
banyak penelitian menunjukan bahwa sebagian besar alat bantu dengar yang
dipergunakan individu tunarungu itu tidak berfungsi dengan baik akibatkehabisan
batrai dan earmould yang tidak cocok.
3. Belajar Bahasa Secara Manual
Secara
alami individu tunaruungu cenderung mengembangkan cara komunikasi manual atau
bahasa isyarat. Untuk tujuan universitas, berbagai negara telah mengembangkan
bahasa isyarat yang dibakukan secara nasional. Ashman & Elkins (1994)
mengemukakan bahwa kimunikasi manual dengan bahasa isyarat yang baku memberikan
gambaran lengkap tentang bahasa kepada tunarungu, sehingga mereka perlu
mempelajarinya dengan baik. Kerugian penggunaan bahasa isyarat ini adalah bahwa
para penggunanya cenderung membentuk masyarakat yang ekslusif.







0 komentar:
Posting Komentar