Jumat, 08 November 2013

Metode Pengajaran Bahasa Bagi Anak Tunarungu


Bahasa merupakan sarana komunikasi yang penting untuk setiap orang termasuk seorang tunarungu. Mereka membutuhkan pembelajaran bahasa agar dapat berkomunikasi dengan orang lain. Ada tiga metode utama individu tunarungu belajar bahasa, yaitu dengan membaca ujaran melalui pendengaran dan dengan komunikasi manual atau dengan kombinasi ketiga cara tersebut.
1.      Belajar Bahasa Melalui Membaca (Speechreading)
Membaca ujaran melalui gerakan bibir tidak semudah yang dibayangkan, semua itu juga membutuhkan keahlian dan pemahaman mendalam agar dapat mengerti maksud namun bagi seorang tunarungu yang belum pernah mendengar tentunya hal tersebut terasa sulit. Menurut Berger (1972), orang dapat memahami pembicaraan orang lain dengan “membaca” ujarannya melalui gerakan bibirnya, akan tetapi hanya sekitar 50% bunyi ujaran yang dapat terlihat pada bibir.
Ashman & Elkins (1994) menambahkan bahwa diantara 50% lainnya, sebagian dibuat dibelakang bibir yang tertutup/jauh dibagian belakang mulut sehingga tidak kelihatan atau ada juga bunyi ujaran yang pada bibir tampak sama sehingga pembicara bibir tidak dapat memastikan bunyi apa yang dilihatnya. Hal ini sangat menyulitkan bagi mereka yang ketunarunguannya terjadi pada masa prabahasa. Seseorang dapat menjadi pembaca ujaran yang baik bila ditopang oleh pengetahuan yang baik tentang struktur bahasa sehingga dapat membuat dugaan yang tepat mengenai bunyi yang “tersembunyi” itu. Jadi orang tunarungu yang bahasanya normal biasanya merupakan pembaca ujaran yang lebih baik daripada tunarungu parbahasa, dan bahkan terdapat bukti bahwa orang non tunarungu tanpa latihan membaca bibir lebih baik daripada orang tunarungu yang terpaksa harus bergantung pada cara ini.
Kelemahan sistem ini dapat diatasi bila digabung dengan sistem cued speech (isyarat ujaran). Cued Speech adalah isyarat gerakan tangan untuk melengkapi isyarat ujaran. Tujuan dari pengmbangan isyarat ini adalah untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak tunarungu dan memberi mereka fondasi untuk keterampilan membaca dan menulis, dengan membaca dan menulis yang baik dan benar.
2.      Belajar Bahasa Melalui Pendengaran
Belajar melalui pendengaran berarti memberikan alat bantu dengar bagi seorang tunarungu. Menurut Ashman & Elkins (1994), alat bantu dengar yang telah terbukti efektif bagi jenis ketunarunguan sensorineural dengan tingkat yang berat sekali adalah cochlea implant. Cochlea implant adalah prostesis alat pendengaran yang terdiri dari dua komponen yaitu komponen eksternal (mikropon dan speech processor) yang dipakai oleh pengguna dan komponen internal ( rangkaian elektroda yang melalui pembedahan dimasukan kedalam cochlea di telinga dalam. Komponen eksternal dan internal digabungkan secara elektrik. Prostesis cochlear implant dirancang untuk menciptakan rangsangan pendengaran dengan langsung memberi stimulasi elektrik pada syaraf pendengaran (Laughton, 1997).
Akan tetapi, meskipun dalam lingkungan auditer terbaik, jumlah bunyi ujaran yang dapat dikenali secara cukup baik oleh orang dengan klasifikasi ketunarunguan berat untuk memungkinkannya memperoleh gambaran yang lengkap tentang struktur sintaksis  dan fonologi bahasa itu terbatas. Tetapi ini tidak berarti bahwa penyandang ketunarunguan yang berat sekali tidak dapat memperoleh manfaat dari bunyi yang diamplifikasi dengan alat bantu dengar. Yang menjadi masalah besar dalam hal ini adalah bahwa individu tunarungu jarang dapat mendengarkan bunyi ujaran dalam kondisi optimal. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan individu tunarungu tidak dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari alat bantu dengar yang digunakannya. Disamping itu, banyak penelitian menunjukan bahwa sebagian besar alat bantu dengar yang dipergunakan individu tunarungu itu tidak berfungsi dengan baik akibatkehabisan batrai dan earmould yang tidak cocok.
3.      Belajar Bahasa Secara Manual
Secara alami individu tunaruungu cenderung mengembangkan cara komunikasi manual atau bahasa isyarat. Untuk tujuan universitas, berbagai negara telah mengembangkan bahasa isyarat yang dibakukan secara nasional. Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa kimunikasi manual dengan bahasa isyarat yang baku memberikan gambaran lengkap tentang bahasa kepada tunarungu, sehingga mereka perlu mempelajarinya dengan baik. Kerugian penggunaan bahasa isyarat ini adalah bahwa para penggunanya cenderung membentuk masyarakat yang ekslusif.

0 komentar:

Posting Komentar