Sabtu, 26 Oktober 2013

PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK TUNARUNGU

Pada umumnya inteligensi anak tunarungu secara potensial sama dengan anak normal, tetapi secara fungsional perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemampuan berbahasanya, keterbatasan informasi dan kiranya daya abstraksi anak. Akibat ketunarunguannya menghambat proses pencapaian pengetahuan yang lebih luas. Dengan demikian perkembangan inteligensi secara fungsional terhambat.
Perkembangan kognitif anak tunarungu sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa, sehingga hambatan bahasa pada anak tunarungu menghambat perkembangan inteligensinya.
Kerendahan tingkat inteligensi anak tunarungu bukan berasal dari hambatan intelektualnya yang rendah, tetapi umumnya disebabkan inteligensinya tidak mendapat kesempatan untuk berkembang. Pemberian bimbingan yang teratur terutama dalam kecakapan berbahasa akan dapat membantu perkembangan inteligensi anak tunarungu. Tidak semua aspek inteligensi anak tunarungu terhambat, aspek inteligensi yang terhambat perkembaangannya adalah yang bersifat verbal, misalnya merumuskan pengertian menghubungkan, menarik kesimpulan dan meramalkan kejadian.
Aspek inteligensi yang bersumber dari penglihatan dan yang berupa motorik tidak banyak  mengalami hambatan, tetapi justru berkembang lebih cepat.
cruickshank yang dikutip oleh Yuke R. Siregar (1986:6) mengemukakan bahwa:
Anak-anak tunarungu sering memperlihatkan keterbatasannya dalam belajar dan kadang tampak terbelakang. Keadaan ini tidak hanya disebabkan oleh derjat gangguan pendengaran yang dialami anak, tetapi juga tergantung pada potensi kecerdasan yang dimiliki, rangsangan mental, serta dorongan dari lingkungan luar yang memberikan kesempatan begi anak untuk mengembangkan kecerdasan itu.
Bayak pendapat yang mengemukakan tentang kemampuan intelektual anak tunarungu. Pendapat-pendapat ini ada yang saling bertentangan. Ada beberapa ahli ilmu jiwa menyatakan bahwa kemampuan kognitif sangat erat hubungannya dengan bahasa.
Sebaliknya ada pula yang berpendapat bahwa anak tunarungu tidak harus lebih rendah taraf inteligensinya dari anak normal.
Fruth, yang dikutip oleh Sri Mardiani (1987:32) mengemukakan bahwa:
Anak tunarungu menunjukan kelemahan dalam memahami konsep berlawanan, dan konsep berlawanan itu sangat tergantung dari pengalaman bahasa, misalnya panas-dingin.

0 komentar:

Posting Komentar