Pendidikan bagi anak tunarungu merupakan proses yang kompleks. Penempatan
yang tepat, cara belajar terbaik bagi masing-masing anak (auditori,
visual, atau manual), kurikulum, amplifikasi, dan keputusan tentang
transisi dari satu lembaga layanan ke lembaga layanan lainnya yang
diambil oleh keluarga, sekolah, dan individu, bergantung pada informasi
yang reliabel. Informasi semacam ini hanya dapat diperoleh dari hasil
asesmen yang baik, yang memperhatikan kekuatan dan kebutuhan anak
dalam bidang komunikasi, akademik, intelektual, medis, dan
karakteristik audiologis anak, yang harus diterjemahkan oleh orang tua
dan guru menjadi tujuan pembelajarannya. Bila perencanaan program
pendidikan anak sehari-hari sudah didasarkan atas informasi hasil
asesmen tersebut, maka asesmen itu sudah mencapai tujuan utamanya.











